Upacara Pernikahan Tradisional Jepang

Hallo Minna! Ketemu lagi sama tim media kreasi nih! Jangan bosen-bosen ya hehe~ Sekarang postingannya tentang apaan ya? Ayo tebak~

Postingan kali ini merupakan hasil adik-adik kita angkatan 2017! Wow, tulisan mereka ini jadi juara 1 kloter pertama di proker soskom bersama maru. Wah jadi penasaran nih tulisannya kayak apa, yuk ah disimak! ^^

UPACARA PERNIKAHAN TRADISIONAL JEPANG

Tidak seperti di Indonesia yang melakukan upacara dengan meriah dan mengundang banyak orang, upacara pernikahan tradisional di Jepang terkesan lebih privat dengan hanya mengundang beberapa kerabat terdekat dari kedua mempelai.
Upacara pernikahan tradisional ini biasanya dilakukan di kuil kuil suci. Upacara tersebut akan dipimpin oleh pendeta Shinto yang ada di kuil tersebut.

yokohama_01191Acara pernikahan tradisional di jepang.

Jalannya upacara pernikahan di Jepang :
1. Pertama-tama pasangan yang hendak menikah disucikan terlebih dahulu oleh pendeta Shinto
2. Melewati tahapan San-San-Kudo; dimana mempelai perempuan dan pria disuruh menghirup sake secara bergiliran. Masing-masing menghirup sembilan kali dari tiga cangkir yang disediakan.
3. Kedua mempelai mengucap sumpah suci yang disaksikan oleh semua anggota keluarga atau wali nikah mereka. Setelah itu, anggota keluarga dan kerabat dekat dari kedua mempelai dipersilakan bergantian meminum sake, pertanda bahwa mereka sudah dipersatukan sebagai keluarga.
4. Ditutup dengan sesaji yang dipersembahkan kepada Dewa bagi umat agama Shinto, yakni berupa ranting Sakaki (sejenis pohon yang dikeramatkan).

traditional weddingSake_in_Japanese_Wedding_Ceremony-907x1024
Upacara pensucian & Tahapan San-San-Kudo

Untuk pakaian yang digunakan saat upacara, mempelai pria menggunakan kimono berwarna hitam sedangkan mempelai wanita menggunakan busana serba putih. Mempelai wanita dapat memilih salah satu dari dua topi hiasan tradisional yang bernama wata boushi dan tsuni kakushi (secara harafiah bermakna “menyembunyikan tanduk”). Tutup kepala ini dipenuhi dengan ornamen rambut kanzashi di bagian atasnya dimana mempelai perempuan mengenakannya sebagai tudung untuk menyembunyikan “tanduk kecemburuan” serta menghalau egoisme dari hadapan ibu mertua.

wata_boushi_l_img2wata_boushi_l_img1
Tsuni Kakushi & Wata Boushi

Ada larangan bagi para tamu undangan untuk tidak mengucapkan kata kata berikut:
– Hanareru (Berjauhan)
– Owaru (Berakhir)
– Kiru (Memotong)
Kata-kata tersebut dilarang karena dapat dianggap bisa membuat pernikahan tersebut tidak langgeng.

Para tamu undangan juga diwajibkan memberi sejumlah uang sumbangan untuk pengantin setelah atau sebelum resepsi tapi nantinya tamu undangan akan diberi Hidekimono atau yang biasa kita kenal dengan cinderamata. Cinderamata yang biasa diberikan adalah pernak pernik cantik , handuk , peralatan makan dan sebagainya

hikidemono3scontoh salah satu isi hikidemono.

Sumber: https://www.akibanation.com/mengintip-tradisi-pernikahan-di-jepang-yang-penuh-kesakralan/
http://www.japanindocuteculture.com/2014/02/tradisi-pernikahan-tradisional-jepang.html?m=1

Disusun oleh :
Kelompok 1 KH 2017
152228
Alviano Aditya
Firman Firdauza
Wahyu Alfian
Gadis Klistiani
Mentari R
Aulia Sabila
Chairinnisa
Sakinah
Putri Galilea

Gimana artikelnya? menarik kan? Salut deh sama adik-adik kita ini~ ^^ Sekian dulu postingan kali ini, ditunggu ya postingan selanjutnya! ^^ Masih ada lagi kloter kedua dan kloter ketiga loh~ Dadah~^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s